Smelter IMIP Kurangi Produksi, Analis Proyeksikan Kenaikan Harga Nikel Global

By Admin


Ilustrasi Smelter Nikel

nusakini.com, Cuaca ekstrem El Nino yang memicu penyusutan debit air sungai memaksa sejumlah pabrik peleburan di Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) memangkas kapasitas produksi. Pengurangan operasional hingga 40 persen tersebut mulai diterapkan sejak Selasa (22/9/2026) pekan lalu.


Kondisi ini diprediksi berdampak langsung pada pergerakan harga nikel di bursa komoditas global. Analis pasar memperkirakan harga logam ini dapat terkerek naik menuju level US$19.500 per ton jika tren penurunan produksi bertahan lama.


"Skenario yang lebih mungkin terjadi adalah harga bergerak naik dari level saat ini US16.700kekisaranUS17.500—US$19.500 per ton dalam beberapa bulan ke depan," terang Analis Komoditas Sutopo Widodo pada Senin (28/9/2026). Prediksi tersebut sangat bergantung pada kepastian terealisasinya pemotongan kapasitas di Sulawesi sebesar 30 hingga 40 persen.


Pihak pengelola kawasan industri di Morowali juga membenarkan adanya gangguan produksi akibat faktor alam tersebut. Penurunan ketersediaan air sungai sangat memengaruhi sistem pendingin tungku listrik dan operasional pembangkit tenaga uap.


Head of Media Relations PT IMIP Dedy Kurniawan mengonfirmasi bahwa beberapa fasilitas penyulingan di kawasannya mengalami penyesuaian target. Meski begitu, pihaknya belum merilis angka pasti terkait taksiran penyusutan produksi nikel tersebut sejak Selasa (22/9/2026).


"Meski demikian, dampak tersebut tidak sampai menyebabkan operasional smelter di Kawasan IMIP terhenti maupun disertai pengurangan tenaga kerja hingga saat ini," jelas Dedy. Perusahaan bersama para penyewa lahan sedang mengupayakan sumber pasokan air cadangan guna meminimalisasi gangguan lebih lanjut.


Di sisi lain, potensi lonjakan harga nikel di pasar dunia diyakini masih akan tertahan oleh tebalnya inventori global. Berdasarkan pemantauan London Metal Exchange (LME), cadangan logam ini masih menumpuk di angka 268.314 ton pada Agustus 2026.


Tekanan pasokan berlebih ini juga dipastikan oleh laporan kelebihan pasokan global yang diramalkan mendominasi tahun ini. Penutupan perdagangan di LME pada Jumat lalu bahkan mencatatkan harga nikel kembali melemah 1,04 persen. (*)